Efektivitas Ekstrak Daun Maja (Aegle marmelos (L) Corr) sebagai Larvasida Aedes aegypti

Monica Puspa Sari, Rina Priastini Susilowati

Abstract


Tanaman maja (Aegle marmelos), dikenal dengan ”Bael atau Maja” dapat ditemukan disekitar kita, dapat dimanfaatkan sebagai larvasida alami karena ramah lingkungan dan relatif lebih  aman bila dibandingkan dengan pestisida kimiawi yang mulai menimbulkan resistensi bagi hewan targetnya. Kandungan beberapa senyawa kimia seperti alkaloid, terpenoid dan tannin  kemungkinan bersifat larvasida maka diperlukan untuk mengetahui apakah ekstrak daun maja menggunakan pelarut etil asetat dan etanol efektif dapat membunuh larva Aedes aegypti  dengan berbagai konsentrasi yaitu 1%; 2%; 4%, 8%; dan 16%, dengan satu kelompok kontrol  positif berupa temephos 1% dan kontrol negatif (tanpa paparan). Rancangan yang digunakan  adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan ulangan sebanyak empat kali. Penelitian ini dilakukan di laboratorium penelitian fakultas kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) dengan populasi larva sebanyak 25 larva  per ulangan. Kematian larva Aedes aegypti diamati 24 jam setelah terpapar. Data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan uji one way Anova dan dilanjutkan dengan uji beda  nyata terkecil (uji BNT) untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang bermakna antara temephos 1% dengan ekstrak daun maja dosis bertingkat yang menggunakan pelarut etil  asetat maupun etanol dalam berbagai konsentrasi. Hasil penelitian menunjukkan nilai LC50  dan LC90 dari pelarut etil asetat sebesar 2,03% dan 3,04%. Sedangkan nilai LC50 dan LC90  menggunakan pelarut etanol sebesar 4,12% dan 10,82%. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak  daun maja menggunakan pelarut etil asetat mempunyai aktivitas larvasida yang lebih tinggi  dibandingkan menggunakan pelarut etanol.

Keywords


Daun maja; Alkaloid; Mortalitas, Aedes aegypti

Full Text:

PDF

References


Goldman L, Schafer AI. Goldman-Cecil Medicine. 20th ed. Philadelphia: Elsevier 2016; 2454-2460

Pinzon RT, Adnyana KSG. Penyakit Parkinson. Yogyakarta: Betha Grafika 2016; 7-13

Kelompok Studi Movement Disorders Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. Buku Panduan Tatalaksana Penyakit Parkinson dan Gangguan Gerak lainnya. Depok: PT. Abbott 2015; 33-64

Quigley EMM, O’Mahony S, Heetun, Z. Motility Disorders in the Patient with Neurologic Disease. Philadelphia: Elsevier 2011; 741-755

Su A, Gandhy R, Barlow C, et al. A practical review of gastrointestinal manifestation in Parkinson’s disease. Philadelphia: Elsevier 2017; 39: 17-26

Sung HY, Park JW, Kim JS. Frequency and Severity of Gastrointestinal Symptoms in Patients with Early Parkinson’s Disease. Journal of Movement Disorders 2014; 7(1): 7-12

Zhong CB, Chen QQ, dan Haikal C. Age – dependent Alpha – Synuclein accumulation and phosphorylation in the enteric nervous system in a transgenic mouse model of Parkinson’s disease. Springer Singapore 2017; 33: 483

Poirier AA, Aube B, Cote M, et al. Gastrointestinal Dysfunctions in Parkinson’s Disease: Symptoms and Treatments. Hindawi 2016; 2016: 1-23




DOI: http://dx.doi.org/10.33476/jky.v27i1.797

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 YARSI Medical Journal

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

__________________________________________________________________________________________

Copyright of YARSI Medical Journal.

Powered by OJS.

Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution- NonCommercial 4.0 International License.