Laporan Kasus TB paru koinfeksi HIV/AIDS

Ibnu Arief Dafitri, Irvan Medison, Dessy Mizarti

Abstract


TB paru merupakan penyakit infeksi yang sering dijumpai di Indonesia. TB paru masih menjadi permasalahan kesehatan di dunia, dengan harapan di tahun 2030 kasus TB paru dapat dieradikasi secara tuntas. Bersamaan dengan kasus TB paru yang belum tuntas, infeksi HIV/AIDS masih cukup tinggi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Infeksi HIV/AIDS dapat memperberat kondisi klinis pasien TB paru itu sendiri. Mendiagnosis kasus TB paru pada pasien dengan HIV/AIDS pada prinsipnya tidak berbeda dengan kasus TB paru tanpa konfeksi HIV/AIDS. Pemeriksaan standar pada kasus TB paru berdasarkan pemeriksaan mikrobiologi berupa pemeriksaan sputum BTA dan tes cepat molekular untuk mengetahui adanya kuman yang telah resisten terhadap obat rifampisin. Pemeriksaan radiologi tetap diperlukan untuk membantu diagnosis TB paru, terutama pada pasien–pasien yang sukar mengeluarkan sputumnya. Pemeriksaan radiologi juga bermanfaat untuk melihat luasnya lesi paru yang diakibatkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis dan penyakit oportunistik lain yang menyerang paru penderita dengan konfeksi HIV/AIDS. Pemberian obat Anti Retro Viral (ARV) pada kasus ini sebaiknya dimulai dalam waktu 2 minggu setelah pemberian Obat Anti Tuberkulosis (OAT).

Keywords


Tuberkulosis, HIV/AIDS, koinfeksi

Full Text:

PDF

References


Breen RAM, Miller RF, Gorsuch T, Smith CJ, Schwenk A, Holmes W, et al., 2006. Adverse Events and Treatment Interuption in Tuberculosis Patients With and Without HIV Coinfection. Thorax, 61:791-794World Health Organization 2016. Global Tuberculosis Report 2016. Geneva: WHO Press.

Budi IS, Ardillah Y, Sari IP, Septiawati D 2018. Analisis Faktor Risiko Kejadian Penyakit Tuberkulosis Bagi Masyarakat Daerah Kumuh Kota Palembang. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, 17(2):87–94.

Departemen Kesehatan RI 2005. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Tuberkulosis. Jakarta: Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI.

Dockrell DH, Breen R, Lipman M, Miller RF 2011. Pulmonary opportunistic infections. HIV Med 12(Suppl 2):25-42.

Fakultas Kedokteran UNS 2017. Tatalaksana Infeksi Tuberkulosis Laten. Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FK UNS Surakarta.

Huang L, Cattamanchi A, Davis JL, Boon S, Kovacs J, Meshnick S, et al., 2011. HIV-associated pneumocystis pneumonia. Proc Am Thorac Soc 8:294-300.

Ismail T, Lee C 2011. HIV associated opportunistic penumonias. Med J Malaysia 66(1):76-81.

Jong E, Conradie F, Berhanu R, Black A, John MA, Meintjes G, Menezes C, et al., 2013. Consensus statement: Management of drug-induced liver injury in HIV-positive patients treated for TB. S Afr J HIV Med, 14(3):113-119.

Kanne JP, Yandow DR, Meyer CA 2012. Pneumocystis jirovecii pneumonia: high-resolution CT findings in patients with and without HIV infection. AJR Am J Roentgenol 198(6):555-561.

Kementerian Kesehatan RI 2014. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementerian Kesehatan RI 2018. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2017. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan RI 2012. Petunjuk Teknis Tata Laksana Klinis Koinfeksi TB-HIV. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.

Kementerian Kesehatan RI 2015. Panduan Pelaksanaan Program Kolaborasi TB-HIV. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.

Kementerian Kesehatan RI 2016. Petunjuk Teknis Program Pengendalian HIV AIDS dan PIMS.

Menezes C. An approach to the management of drug induced liver injury in HIV-infected patients treated for TB. Department of Internal Medicine Chris Hani Baragwanath Academic Hospital, University of The Witwatersrand. [cited April 10, 2016]

Naidoo K, Baxter C, Abdool Karim SS 2013. When to start antiretroviral therapy during tuberculosis treatment? Curr Opin Infect Dis. 26(1):35–42.

Padmapriyadarsini C, Narendran G, Swaminathan S 2011. Diagnosis & Treatment of Tuberculosis in HIV Co-infected Patients. Indian J Med Res, 134(6):850-865.

Peruzzi WT, Shapiro BA, Noskin GA, Currie DL, Skoutelis A, Murphy RL, et al., 1992. Concurrent bacterial lung infection in patients with AIDS, PCP, and respiratory failure. Chest 101(5):1399–1403.

Regazzi M, Carvalho AC, Villani P, Matteelli A 2014. Treatment Optimization in Patients CoInfected with HIV and Mycobacterium tuberculosis Infections: Focus on Drug–Drug Interactions with Rifamycins. Clin Pharmacokinet, 53(6):489-507.

Venkatesan P 2017. Guideline for the treatment of Pneumocystis jirovecii pneumonia (PCP) in adults. Inggris: Nottingham University Hospital.

World Health Organization 2015. Global Tuberculosis Report 2015. Geneva: WHO Press.




DOI: https://doi.org/10.33476/jky.v28i2.1420

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 YARSI Medical Journal

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

__________________________________________________________________________________________

Copyright of YARSI Medical Journal.

Powered by OJS.

Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution- NonCommercial 4.0 International License.