Sepsis Et Causa Empiema Dekstra Et Causa Community Acquired Pneumonia Dengan Komorbid Diabetes Melitus

Eka Irawan, Irvan Medison, Fenty Anggraini, Dessy Mizarti

Abstract


Sepsis adalah respon inflamasi sistemik terhadap infeksi yang berat. Sepsis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas terutama pada usia lanjut, imunocompromised, penderita dengan kondisi kritis. Pneumonia merupakan lesi infeksi primer tersering pada pasien sepsis. Sepsis berat dapat terjadi akibat infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan dan dapat pula diperoleh dari komunitas (Community Acquired Pneumonia). Penelitian melaporkan bahwa 5-10% pasien pneumonia yang dirawat di rumah sakit berkembang menjadi empiema dan angka kematian meningkat secara bermakna dibandingkan pasien pneumonia tanpa empiema. Kejadian infeksi lebih sering terjadi pada pasien dengan diabetes akibat munculnya lingkungan hiperglikemik yang meningkatkan virulensi patogen, menyebabkan terjadinya disfungsi kemotaksis dan aktifitas fagositik, serta kerusakan fungsi neutrofil. Infeksi paru pada diabetes melitus ditandai dengan perubahan pada pertahanan imun host, di seluruh tubuh, dan khususnya secara lokal di paru maupun pada fungsi epitel pernapasan dan motilitas silia. Tatalaksana sepsis pada kasus ini dengan terapi cairan yang adekuat, pemberian antibiotik kombinasi dan segera mengevakuasi pus dari rongga pleura dengan pemasangan chest tube, dan tatalaksana komorbid diabetes melitus dengan protokol drip insulin untuk kontrol glukosa serum.

Keywords


Sepsis; Pneumonia; Diabetes Melitus

Full Text:

PDF

References


Ahmed AE, Yacoub TE 2010. Empyema thoracis [review]. Clinical medicine insight: circulating, respiratory and pulmonary medicine.;4: 1-8.

Backer D, Dorman T 2017. Surviving sepsis guidelines: a continuous move toward better care of patients with sepsis. JAMA.; 317(8): 807-8.

Bernard GR, Vincent JL, Laterre PF, LaRosa S, Dhainaut JP, Rodriguez AL, et al., 2001. Efficacy and safety of recombinant human activated protein c for severe sepsis. N Eng J Med; 344 (10): 699-709.

Chen K dan Pohan HT 2007. Penatalaksanaan Syok Septik dalam Sudoyo, Aru W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. Simadibrata K, Marcellus. Setiati, Siti. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Pp: 187-9

Christopher W Seymour, Matthew R Rosengart 2015. Septic shock Advances in Diagnosis and Treatment. Jama.

Hari sankar, Philips 2016. Developing a New Definition and Assessing New Clinical Criteria for Septic Shock: For the Third International Consensus Definitions for Sepsis and Septic Shock (Sepsis-3). Jama.

Jeffrey E, Michael A 2016. Sepsis pathophysiologycal and clinical management. BMJ.

Light RW 2011. Parapneumonic Effusions and empyema. Bab 12. Pleural Disease. Fifth edition. Philadelphia, USA:179-210.

Mervyn Singer, clifford 2016. The Third International Consensus Definitions for Sepsis and Septic Shock. JAMA.

Mossie A 2013. Pathofisiology of septic. World Journal of Medicine and Medical Science.

Munford RS 2008. Severe Sepsis and Septic Shock. In A.Feluci,et al Harrison’s Prinsiple of Internal 1 Medicine, 17th ed.New york: Mc Graw-Hill Medica1, Ch .265.

Meissner M 2014. Update on Procalsitonin Measurement, Ann Lab Med: 34:263-273.

Mehta Y, Kochar G 2017. Sepsis and septic shock. Journal of Cardiac Critical Care TSS; 1(1): 3-5.

National Clinical Effectiveness Committee (NCEC) 2014. Sepsis Management National Clinical Guideline; No.6, An Roine Slainte Departement of Health, Ireland.

Purwitasari M, Burhan E, Soepandi PZ 2013. Peranan prokalsitonin pada pneumonia komunitas. Indones J Infect Dis ;33–41.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) 2014. Pneumonia Komuniti: Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia. Perhimpun Dr Paru Indones;6.

Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) 2015. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus tipe 2 di Indonesia. Jakarta: PB PERKENI; p.75-7.

Sameraro N, Ammollo CT, Sameraro F 2012. Sepsis, Thrombosis and Organ Disfunction, Thrombosis Research, Elseivers; 129: 290-5.

Sahn SA 2007. Diagnosis and management of parapneumonic effusions and empyema. Clin Infect Dis; 45:1480-6.

Shiferaw B, Bekele E, Kumar K, Boutin A, Frieri M 2016. The Role of Procalsitonin as A Biomarker in Sepsis: J.Infect Dis Epidemiol,vol 2(1);2: 006.

Shrestha K, Shah S, Tulung S, Karki b, Pokhrel DP 2011. Envolving experience in the management of emphyema thoracis. Kathmandu Univ Med J;33(1):5-7.

Yanti WS, Loehoeri S 2003. Profil pasien yang di Diagnosis Sepsis di RS Dr.Sardjito. Dalam Ilmu kedokteran Berkala, Yogyakarta,; 35:4:225-30.

Yu H 2011. Management of pleural effusion, empyema and lung abcess. Seminars in Interventional radiology; 28: 75-86.

Z Fadhil 2016.Definition, Incidence and Evolution of Sepsis & Septic Shock. Open Acces.




DOI: https://doi.org/10.33476/jky.v28i2.1418

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 YARSI Medical Journal

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

__________________________________________________________________________________________

Copyright of YARSI Medical Journal.

Powered by OJS.

Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution- NonCommercial 4.0 International License.